Malam kemarin begitu langka. Membuat rasaku berharu-biru, pikiranku penuh. Aku berkunjung ke kosan salah seorang teman, dan jadi pusing waktu kutau dia makan hari itu hanya dengan nasi, kerupuk, sama cengek (cabe rawit). Ugh…
“biasa lagi kere, teh”, katanya dengan santai.
“Ada sih telor tapi masih mentah”, tambahnya lagi sambil menunjuk telor ayam beberapa butir yang memang mentah kayaknya.
Astaghfirullah…maafkan aku, saudariku. Yang tadi makan cukup enak, tanpa tau kamu lagi kesulitan untuk makan dengan lauk yang layak.
Aku juga sering sih makan seadanya, tapi itu dulu, sebelum 3 tahun ini. Jalan kaki juga iya kalo lagi ga punya ongkos. kadang kangen sih masa2 itu, karena sesunguhnya ada kenikmatan lain:kemerdekaan hati. Dulu jarang mengeluh ketika ga ada lauk atau harus jalan dago-kelapa, beda dengan sekarang yang makan sama tahu aja meni asa seret.
Aku dilanda kekhawatiran juga sekarang2, jangan2 aku sudah termasuk menjadi mereka yang cinta dunia dan takut mati. Karena rasanya beda, seperti sesuatu yang hilang.
O ya Allah…kembalikanlah aku pada jalanMu yang lurus, ingatkan aku betapa Engkau selalu begitu mencintaiku, beri petunjuk ketika aku menyimpang, dan jangan tinggalkan aku, sekalipun, jangan tinggalkan aku…
Muliakanlah saudari hamba ini dan seluruh muslim di seluruh dunia, jadikan sabar dan syukur jadi pakaian kami, jika tiada akhir kecuali padaMu, ketika tidak berguna harta dan tiada berarti kemiskinan. Hanya ketaqwaan saja, bukan apa-apa. Bukan di sini tempat bermewah-mewahan, bukan disini tempatnya beristirahat…






