An-najm Nur Fajri

My haze.

Saya suka warna hijau darinya. Menjadi sistematis, menjadi begitu efektif, menghargai yang “kecil” yang tak terlihat orang lain. Sosok kuat yang di tangannya, seolah segala akan beres. Misterius. Penuh kejutan.

Jarum pentul, mur, paku, kawat, dan uang recehan

“Ji, nih!”

Aku menatap benda di tangannya. Sebuah jarum pentul warna putih yang lapisannya lapisan pentulnya udah terkikis. Dapat dari mana ni orang?

“Ya, makasih”

Lain waktu

Kami pulang tanpa bawa kunci. Kehausan, habis jalan jauh, kunci ga ada pula. Fewh!

Dia mengeluarkan kawat dari kantong tas depannya. Dibengkokkan, dimasukkan ke lubang kunci. Matanya menerawang, aku pikir lagi ngebayangin tekstur lubang kuncinya dan klik….pintu terbuka dan kami semua nyengir lebar. Ada bakat juga nih…..jadi maling :D

Ketika membungkuk, pasti ada saja yang dipungutnya. mur, uang receh (yang dimasukkan ke dalam wadah bekas roll film) yang memang berguna. Dia punya wadah2 khusus untukmenampung barang2 pungutannya itu. Dulu, kami biasa melalui rute kelapa-dago, dago-sarijadi, sarijadi-wastukancana-dago,pahlawan-dago dengan berjalan kaki. Bukan karena lagi olah raga, tapi karena gak punya ongkos.

Dia yang rajin shaum senin-kamis. Dia yang penuh kejutan. Dulu aku ga ngeh waktu Ramadhan malas sahur, dia bilang “Yang penting bukan makannya, tapi berkahnya”. Sekarang, hampir 5 tahun berlalu dan aku jadi tahu besarnya makna “berkah” yang dia bilang dulu.

Suatu ketika, aku dan dia dan mama pergi ke bandara buat anter mama ke balik papan. Mama yang pendengarannya kurang, sudah agak tua dan “ndeso” tampaknya membuat dia khawatir. Dia pergi entah kemana mama sudah masuk ke ruang tunggu dan aku ditinggalkannya sendiri. Di tengah orang2 yang pada perlente, aku duduk. Tak panik, tak berusaha mencari. Tak berusaha untuk pergi. Aku duduk, buka mushaf, dan dia pun muncul, menemukan aku (taela…)

Mau ngomong banyak, buat meyakinkan kamu kalau dia benar2 istimewa. Tapi kok jadi macet gini, ya. O ya, masalah hematnya.

Dulu selagi dia masih mahasiswa -teknik fisika 98 itb-dia dapat dana 50-100 ribu dari orang tuanya yang seorang petani di pelosok sleman sana. Aku berkesempatan lihat agendanya -dulu masih jahil banget hehehe jadinya agenda siapa aja dilihat-dan disana ada daftar menu yang dia beli perharinya, dia rinci perminggu.

Pagi                Roti                          500

Siang              Nasi+telor             1.500

Sore                Roti                          500

Ini ampe taon 2004-an. Kesininya sih agak makmur. Dan kalau udah makmur, tak segan naek aC bahkan sampai ke DAMRI juga :D Tapi alesannya emang bagus. Kalau pemilu kan siap menang siap kalah, ini mah siap kaya siap miskin heuheuheu. Dan sabtu wisuda, seninnya dan kerja.

Sekarang dia bersiap untuk jadi cabi-calon abi. mudah2an dapat anak yang akan jadi kiyadah dalam perjuangan islam.

(asa ga seru, padahal mah idenya seru banget hehehe)

Oia, dia pernah bilang gini “jangan bilang ibu kalau ada hal yang ga nyenengin”. Dan dari saat itulah, aku curhatnya ke temen2 atau ke buku :P

Dia juga sangat selektif mengenai hartanya. Dari dulu.Sekarang pun dia kerap nitip ke DPU, dan kalo hasil dari bunga bank (dia masih nyimpen di yang konvensional), dia suka bilang supaya ga dicampur sama pos yang lain. Subhanallah…

Penampilannya agak2 kumuh, kamu dengan mudah dapat menemukan sobekan di kerah baju atau tisikan di lutut celananya. Tapi bersih.

Dia biangnya pede. Pernah ni, kami di alun2 untuk suatu keperluan. Ada cabe di giginya, aku bilangin. Betah rupanya tu cabe. Di sebelah kami ada toko Dunkin Donuts, dan dia masuk ke toko itu, bersihin giginya di kaca dan…keluar lagi. Aku lihat pelayan DD yang putih2 cantik dan seksi dan tampak bersih kali itu bengong, trus bisik2 sambil cekikikan, mengiringi aku yang cekikikan juga xixixixi…

Cinta yang mewah

Kategori ini saya khususkan bagi mereka yang menjadi inspirasi. Tadinya kepikiran bahwa saya tumbuh di “jalanan”. Namun tidak, saya memiliki “rumah”, tempat cinta yang mereka semai berkembang di hati saya seperti kuku. Keep silent. Wajar. Indah. Pelan namun pasti.

Eh tapi sekarang mah aku mau nostalgia dulu setting tempat aku lahir dan tumbuh.  Hm,

One Upon Time…

Ya, jambu yang sebelah sana.Besar dan ranum warnanya.

Aku merubah posisi kakiku untuk bisa menjejak dahan yang lebih tinggi. Tanganku pun aku posisikan agar mengiringi perubahan posisi yang aku buat. Sedikit lagi….

“Ati!”

Huah! Konsentrasiku buyar, hampir saja aku jatuh. Dengan kesal aku menoleh.

“Apa?”

“Mah ke warung dulu!”

Aku terperanjat.

“Ikut ikut!”

“Da cuma sebentar, beli asin aja! Tunggu weh disitu! Ambil jambu lagi yang banyak”

“Aaaa ikut ikut”!

Aku terburu-buru turun. HAmpir saja tergelincir.

“Tapi pake bajunya”

“He eh!”

Ke warung yang hanya 10 menit. Apa coba yang asyik? Tapi da pengen we. Pulangnya, aku yakinkan bahwa aku dapet si ranum yang tadi kuincar. Orang yang lewat bakalan ngira “aya monyet tingguntayang dina tangkal…nerekel”. Ya kayak monyet, naik pohon dan ga pake baju. Hiii

Berapa taun ya ini? Yang jelas ga lewat dari 5 tahun. Di salah satu sudut Kendari, Sulawesi Tenggara. Tempat orang tua saya bertransmigrasi. PAdang rumput yang luas, hutan yang penuh dengan pohon berwarna coklat. Langit yang membentang dan warnanya biru sekali.

Ladang dan sawah yang membentang, bukit yang pada musim hujan ibu saya dijemput oleh wanita asli sana untuk memetik jamur yang tumbuh bagai di negeri nirmala. TAngan dan kaki penuh dengan borok yang pada nongol setelah main perang-perangan ketika hujan mengguyur jerami yang baru saja dibakar.

Jarak yang berkilo-kilo kami tempuh dengan jalan kaki. sAya masih ingat ketika ke pasar kami berjalan jauuuuuuh sekali, dengan membawa sedikit daging dan kue apem. Itu waktu udah agak makmur dikit,da kalau sebelumnya mah untuk dapet dua liter beras aja bapak sampai harus jual wajan ke tetangga yang agak kaya. Pernah sekali waktu naik truk yang pijakannya tinggiiiiii bangetz. Hoeh….

(bersambung)