My haze.
Saya suka warna hijau darinya. Menjadi sistematis, menjadi begitu efektif, menghargai yang “kecil” yang tak terlihat orang lain. Sosok kuat yang di tangannya, seolah segala akan beres. Misterius. Penuh kejutan.
Jarum pentul, mur, paku, kawat, dan uang recehan
“Ji, nih!”
Aku menatap benda di tangannya. Sebuah jarum pentul warna putih yang lapisannya lapisan pentulnya udah terkikis. Dapat dari mana ni orang?
“Ya, makasih”
Lain waktu
Kami pulang tanpa bawa kunci. Kehausan, habis jalan jauh, kunci ga ada pula. Fewh!
Dia mengeluarkan kawat dari kantong tas depannya. Dibengkokkan, dimasukkan ke lubang kunci. Matanya menerawang, aku pikir lagi ngebayangin tekstur lubang kuncinya dan klik….pintu terbuka dan kami semua nyengir lebar. Ada bakat juga nih…..jadi maling
Ketika membungkuk, pasti ada saja yang dipungutnya. mur, uang receh (yang dimasukkan ke dalam wadah bekas roll film) yang memang berguna. Dia punya wadah2 khusus untukmenampung barang2 pungutannya itu. Dulu, kami biasa melalui rute kelapa-dago, dago-sarijadi, sarijadi-wastukancana-dago,pahlawan-dago dengan berjalan kaki. Bukan karena lagi olah raga, tapi karena gak punya ongkos.
Dia yang rajin shaum senin-kamis. Dia yang penuh kejutan. Dulu aku ga ngeh waktu Ramadhan malas sahur, dia bilang “Yang penting bukan makannya, tapi berkahnya”. Sekarang, hampir 5 tahun berlalu dan aku jadi tahu besarnya makna “berkah” yang dia bilang dulu.
Suatu ketika, aku dan dia dan mama pergi ke bandara buat anter mama ke balik papan. Mama yang pendengarannya kurang, sudah agak tua dan “ndeso” tampaknya membuat dia khawatir. Dia pergi entah kemana mama sudah masuk ke ruang tunggu dan aku ditinggalkannya sendiri. Di tengah orang2 yang pada perlente, aku duduk. Tak panik, tak berusaha mencari. Tak berusaha untuk pergi. Aku duduk, buka mushaf, dan dia pun muncul, menemukan aku (taela…)
Mau ngomong banyak, buat meyakinkan kamu kalau dia benar2 istimewa. Tapi kok jadi macet gini, ya. O ya, masalah hematnya.
Dulu selagi dia masih mahasiswa -teknik fisika 98 itb-dia dapat dana 50-100 ribu dari orang tuanya yang seorang petani di pelosok sleman sana. Aku berkesempatan lihat agendanya -dulu masih jahil banget hehehe jadinya agenda siapa aja dilihat-dan disana ada daftar menu yang dia beli perharinya, dia rinci perminggu.
Pagi Roti 500
Siang Nasi+telor 1.500
Sore Roti 500
Ini ampe taon 2004-an. Kesininya sih agak makmur. Dan kalau udah makmur, tak segan naek aC bahkan sampai ke DAMRI juga
Tapi alesannya emang bagus. Kalau pemilu kan siap menang siap kalah, ini mah siap kaya siap miskin heuheuheu. Dan sabtu wisuda, seninnya dan kerja.
Sekarang dia bersiap untuk jadi cabi-calon abi. mudah2an dapat anak yang akan jadi kiyadah dalam perjuangan islam.
(asa ga seru, padahal mah idenya seru banget hehehe)
Oia, dia pernah bilang gini “jangan bilang ibu kalau ada hal yang ga nyenengin”. Dan dari saat itulah, aku curhatnya ke temen2 atau ke buku
Dia juga sangat selektif mengenai hartanya. Dari dulu.Sekarang pun dia kerap nitip ke DPU, dan kalo hasil dari bunga bank (dia masih nyimpen di yang konvensional), dia suka bilang supaya ga dicampur sama pos yang lain. Subhanallah…
Penampilannya agak2 kumuh, kamu dengan mudah dapat menemukan sobekan di kerah baju atau tisikan di lutut celananya. Tapi bersih.
Dia biangnya pede. Pernah ni, kami di alun2 untuk suatu keperluan. Ada cabe di giginya, aku bilangin. Betah rupanya tu cabe. Di sebelah kami ada toko Dunkin Donuts, dan dia masuk ke toko itu, bersihin giginya di kaca dan…keluar lagi. Aku lihat pelayan DD yang putih2 cantik dan seksi dan tampak bersih kali itu bengong, trus bisik2 sambil cekikikan, mengiringi aku yang cekikikan juga xixixixi…
